LAPORAN ANALISIS STRATEGI BAURAN PEMASARAN (MARKETING MIX) 7P PADA UMKM KULINER "LE BASRENG SYIFA - TUGAS TERSTRUKTUR 06
TUGAS TERSTRUKTUR 06
Nama: Syifa Fahira H.
NIM: 43224010051
Prodi: S1 Akuntansi
Mata Kuliah: Kewirausahaan
Dosen Pengampu: Atep Afia Hidayat, Ir., MP.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pemilihan Produk/Jasa
Industri camilan pedas di Indonesia, khususnya produk baso goreng (basreng), menunjukkan pertumbuhan pesat karena tingginya minat masyarakat terhadap makanan ringan yang praktis, bercita rasa kuat, dan terjangkau. Namun, pelaku usaha menghadapi tantangan disrupsi digital yang serius. Berdasarkan studi Bakri dan Rukaiyah (2025), bisnis kuliner lokal mengalami invisible competition, di mana preferensi konsumen urban bergeser masif akibat strategi pemasaran digital yang agresif dan pencitraan merek yang kuat dari kompetitor. Di tengah kompetisi tersebut, "Le Basreng Syifa" hadir sebagai entitas bisnis kuliner baru yang menjawab kebutuhan pasar melalui pendekatan modern.
Pemilihan Le Basreng Syifa sebagai objek analisis didasari oleh urgensi bahwa bisnis kecil tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas rasa atau harga. Untuk menghindari penurunan omzet akibat ketertinggalan teknologi, pelaku usaha harus mentransformasi strategi bisnis menuju ekosistem yang adaptif dan terdigitalisasi. Melalui laporan ini, bauran pemasaran Le Basreng Syifa dianalisis menggunakan konsep 7P secara sistematis agar memiliki daya saing kuat, mampu mengoptimalkan platform digital, dan menjaga keberlanjutan bisnisnya secara jangka panjang.
B. Tujuan Analisis
Penulisan laporan analisis bauran pemasaran ini memiliki beberapa tujuan utama:
- Memahami konsep bauran pemasaran (Marketing Mix) 7P (Product, Price, Place, Promotion, People, Process, Physical Evidence) secara komprehensif.
- Menganalisis penerapan strategi bauran pemasaran 7P pada produk Le Basreng Syifa secara sistematis berdasarkan kondisi riil di lapangan.
- Mengembangkan ide strategi pemasaran baru yang kreatif, inovatif, dan efektif sesuai tren pasar modern.
- Melatih kemampuan berpikir strategis dan solutif dalam konteks manajemen operasional UMKM.
C. Gambaran Umum Pasar Sasaran
Target konsumen Le Basreng Syifa difokuskan pada segmentasi pasar yang spesifik dan terukur:
- Segmentasi Demografis: Remaja hingga dewasa muda (usia 15–30 tahun) dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan karyawan muda dengan frekuensi konsumsi camilan harian yang tinggi.
- Segmentasi Geografis: Wilayah lokal di sekitar area operasional (lingkungan kampus dan sekolah) untuk penjualan langsung (offline), serta pasar nasional melalui pengiriman ekspedisi logistik.
- Segmentasi Psikografis & Perilaku: Konsumen yang aktif menggunakan media sosial (digital native), menyukai kepraktisan, sangat dipengaruhi estetika visual kemasan, serta sensitif terhadap kualitas rasa dan kesesuaian harga.
ANALISIS STRATEGI PEMASARAN 7P
A. Product (Produk)
Le Basreng Syifa memproduksi camilan baso goreng berkualitas premium dengan rasa pedas-gurih khas Nusantara. Produk ini diolah dari bahan baku bakso ikan pilihan secara higienis untuk menghasilkan tekstur renyah, tidak keras, dan bebas aroma amis. Keunggulan kompetitif utamanya terletak pada formulasi bumbu menggunakan racikan cabai asli premium dan irisan daun jeruk segar, bukan bumbu bubuk instan curah pabrikan.
Guna memenangkan persaingan, inovasi produk dihadirkan melalui sistem tingkat kepedasan (leveling) yang terukur sesuai toleransi lidah konsumen. Rencana inovasi ke depan mencakup pengembangan varian rasa baru yang adaptif, seperti rasa keju pedas (spicy cheese) dan rendang. Dari segi pengemasan, produk ini menggunakan kemasan modern jenis standing pouch tebal dilengkapi fitur pengunci ziplock dan desain visual estetik untuk menjaga ketahanan renyah sekaligus menaikkan nilai persepsi (perceived value) produk.
B. Price (Harga)
Produk ini diolah dari bahan baku bakso ikan pilihan secara higienis untuk menghasilkan tekstur renyah, tidak keras, dan bebas aroma amis. Pengembangan produk basreng ikan ini sejalan dengan prinsip potensialisasi inovasi olahan ikan yang mengedepankan nilai tambah dari bahan baku perikanan melalui proses produksi yang higienis dan kreatif (Fadhli & Ahmil, 2022).
Le Basreng Syifa menerapkan kombinasi strategi penetapan harga kompetitif (competitive pricing strategy) dan harga penetrasi (penetration pricing strategy). Penentuan harga dasar dihitung melalui metode cost-plus pricing dengan menetapkan harga jual sebesar Rp15.000 per kemasan setelah memperhitungkan biaya produksi langsung dan operasional.
Le Basreng Syifa menerapkan strategi harga penetrasi (penetration pricing strategy) dengan menetapkan harga awal yang lebih rendah dibandingkan pesaing untuk menarik pelanggan baru dan mempercepat penetrasi pasar. Strategi ini bertujuan membangun loyalitas pelanggan sehingga konsumen tetap memilih produk meskipun harga mengalami penyesuaian di kemudian hari.
Penerapan harga penetrasi ini bertujuan meminimalkan hambatan masuk ke pasar (barrier to entry) dan menarik konsumen baru secara cepat di awal kemunculan merek. Harga ini sangat relevan dengan daya beli kalangan pelajar dan mahasiswa selaku target pasar utama, sehingga menciptakan persepsi nilai yang baik dan mendorong terjadinya pembelian ulang (repeat order).
C. Place (Distribusi)
Saluran distribusi yang digunakan menerapkan model campuran atau hybrid untuk mengoptimalkan penetrasi pasar. Saluran pertama adalah distribusi langsung (direct channel) secara offline kepada konsumen di lokasi fisik yang dekat dengan pusat kegiatan target pasar (lingkungan perumahan, sekolah, dan kampus) melalui sistem pengantaran mandiri (cash on delivery).
Saluran kedua adalah distribusi berbasis digital (online channel) memanfaatkan internet sebagai etalase utama untuk menerima pesanan dari mana saja, didukung integrasi sistem dengan penyedia jasa logistik ekspedisi pihak ketiga yang kredibel untuk pengiriman aman ke luar wilayah lokal.
D. Promotion (Promosi)
Strategi promosi difokuskan pada pemanfaatan digital marketing dan content marketing yang kreatif. Media sosial dioptimalkan sebagai saluran utama untuk membangun brand awareness secara visual melalui konten interaktif yang relevan dengan selera remaja. Promosi juga didukung melalui platform tulisan digital berupa blog resmi lebasrengsyifa.blogspot.com dengan menu navigasi khusus "Bisnispedia" yang berfungsi sebagai pusat edukasi produk, media transparansi profil bisnis, sekaligus wadah storytelling untuk membangun kepercayaan (trust) konsumen.
Penggunaan media sosial, khususnya Instagram, yang dikolaborasikan dengan peran influencer, terbukti mampu menekan biaya pemasaran dibandingkan media cetak, sekaligus meningkatkan brand attachment dan loyalitas konsumen terhadap produk secara signifikan (Handika & Darma, 2018). Hal ini sejalan dengan temuan bahwa strategi pemasaran modern saat ini lebih efektif jika beralih dari cara konvensional ke pemasaran berbasis media sosial untuk menjangkau audiens secara lebih personal (Handika & Darma, 2018). Evaluasi berjalan menunjukkan kombinasi promosi digital ini sangat efektif sebagai strategi pemasaran berbiaya rendah namun berdampak besar (low-cost high-impact marketing). Rencana ke depan akan difokuskan pada pengadaan program giveaway, diskon berbasis momentum, dan kerja sama mikro-endorsement dengan content creator lokal.
E. People (Sumber Daya Manusia)
Elemen sumber daya manusia memegang peranan krusial sebagai garda terdepan. Setiap anggota tim dibentuk untuk responsif, ramah, dan solutif demi menciptakan pengalaman pelayanan (service experience) yang nyaman bagi pelanggan di media sosial, aplikasi pesan instan, maupun saat transaksi langsung di lapangan.
Strategi pelatihan internal difokuskan pada kompetensi produk (product knowledge) dan standar komunikasi interpersonal, termasuk standardisasi waktu respons (response time) yang cepat dalam membalas pesan digital serta prosedur penanganan keluhan pelanggan secara profesional untuk mendorong loyalitas jangka panjang.
F. Process (Proses Layanan)
Alur pelayanan dirancang sistematis melalui dua jalur utama. Secara online, konsumen melihat katalog di blog resmi, memesan via kontak layanan pelanggan, melakukan pembayaran nontunai (transfer bank/dompet digital), lalu tim memproses pengemasan pada hari yang sama (same-day packaging) untuk dikirim via ekspedisi. Secara offline, transaksi dilakukan langsung di lokasi fisik atau melalui sistem cash on delivery yang disepakati.
Fokus utama manajemen proses adalah meminimalkan waktu tunggu (lead time) dan memangkas birokrasi transaksi agar pelayanan berjalan lancar, higienis, dan profesional.
G. Physical Evidence (Bukti Fisik)
Bukti fisik dirancang modern untuk mencerminkan citra merek (brand image) yang profesional. Elemen utama berupa kemasan standing pouch transparan tebal dengan stiker label logo yang estetik, sehingga keaslian bumbu cabai dan daun jeruk terlihat jelas dari luar.
Karena tidak memiliki toko fisik permanen, etalase dioptimalkan melalui visualisasi media sosial dan blog resmi lebasrengsyifa.blogspot.com yang rapi dan mudah dinavigasi. Kepercayaan konsumen diperkuat secara konkret melalui transparansi profil bisnis pada menu "Bisnispedia" serta dokumentasi testimoni positif pelanggan yang dipublikasikan secara berkala.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Ringkasan Hasil Analisis
Berdasarkan analisis komprehensif bauran pemasaran (Marketing Mix) 7P pada usaha Le Basreng Syifa, dapat disimpulkan bahwa lini bisnis UMKM ini memiliki potensi pasar yang besar dan fondasi produk yang kuat. Dari segi Product dan Price, Le Basreng Syifa berhasil menciptakan keunggulan kompetitif melalui penggunaan bahan baku cabai asli dengan harga Rp15.000 yang adaptif terhadap daya beli pelajar dan mahasiswa. Dari dimensi Place, Promotion, People, dan Process, usaha ini menerapkan model operasional campuran (hybrid) yang efisien berbasis internet. Keberadaan identitas digital melalui blog resmi lebasrengsyifa.blogspot.com dengan menu navigasi "Bisnispedia" serta kemasan standing pouch ziplock juga efektif menjadi Physical Evidence utama dalam membangun kepercayaan (trust) konsumen. Secara keseluruhan, integrasi elemen 7P telah berjalan logis, meskipun penetrasi pasar digitalnya masih memerlukan pengembangan lebih lanjut agar mampu bersaing optimal di industri kuliner modern.
B. Rekomendasi Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Daya Saing
Guna meningkatkan volume penjualan dan menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang, berikut adalah beberapa rekomendasi strategi pemasaran inovatif yang layak diimplementasikan:
- Diferensiasi Produk Secara Berkala: Merealisasikan rencana varian rasa baru yang sedang tren, seperti rasa keju pedas (spicy cheese) dan rendang, untuk memperkaya pilihan konsumen.
- Optimalisasi Pemasaran Digital: Meningkatkan aktivitas promosi interaktif via video pendek (reels/TikTok) yang estetik serta mengoptimalkan blog resmi sebagai media storytelling proses produksi yang higienis.
- Perluasan Jaringan Distribusi: Mendaftarkan toko pada platform online food delivery lokal dan marketplace nasional, serta menjajaki skema kemitraan (reseller) dengan sistem komisi untuk memperluas jangkauan tanpa beban biaya operasional besar.
- Promosi Berbasis Momentum: Merancang program potongan harga khusus, paket bundel (bundling package) hemat grosir, serta kegiatan giveaway pada momentum hari-hari besar untuk mendorong konversi penjualan secara eksponensial.
DAFTAR PUSTAKA
Bakri, A. N., & Rukaiyah, S.
(2025). Kuliner lokal di ambang krisis: Bagaimana dominasi kuliner asing
mengubah pola konsumsi dan mengancam keberlanjutan bisnis tradisional. Adl
Islamic Economic, 6(1), 59-76.
Handika, M. R., & Darma, G. S.
(2018). Strategi pemasaran bisnis kuliner menggunakan influencer melalui media
sosial instagram. Jurnal Manajemen Bisnis, 15(2),
192-203.
Komentar
Posting Komentar